Hiu Paus Teluk Cendrawasih: Riset danb Monitoring
Kata Kunci:
Perikanan, Ikan Hiu##submission.synopsis##
Buku ini membuka pembahasan dengan mengulas berbagai fakta ilmiah tentang hiu paus (Rhincodon typus), hasil dari penelitian dan kegiatan monitoring di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia—terutama di Teluk Cenderawasih. Melalui pendekatan ilmiah dan observasi lapangan, buku ini mengupas aspek pemanfaatan, perdagangan, morfologi, anatomi, fisiologi, genetik, serta peran ekologis hiu paus dalam menjaga keseimbangan laut tropis.
Sebagai ikan terbesar di dunia, hiu paus dikenal jinak dan tidak berbahaya bagi manusia, meski memiliki ukuran tubuh raksasa dan mulut selebar 1,5 meter. Tubuhnya yang penuh dengan pola totol-totol unik menjadi ciri khas setiap individu, layaknya sidik jari manusia. Hiu paus dapat hidup hingga usia 70 tahun, bergerak lambat sekitar 5 km/jam, namun mampu menyelam hingga kedalaman 1.000 meter.
Selain itu, buku ini menyingkap bahwa hiu paus merupakan spesies purba yang telah menghuni lautan sejak 60 juta tahun lalu. Di Indonesia, hewan ini dikenal juga dengan nama hiu totol atau gurano bintang dan dapat dijumpai di berbagai wilayah tropis seperti Nabire, Kaimana, Maluku, Gorontalo, Sabang, Situbondo, hingga Nusa Tenggara.
Dari sisi konservasi, sejak tahun 2013, Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.18/2013 telah menetapkan hiu paus sebagai satwa laut yang dilindungi penuh. Upaya ini penting mengingat hiu paus termasuk spesies dengan perkembangbiakan yang lambat dan berstatus rentan punah (vulnerable) dalam Daftar Merah IUCN.
Lebih dari sekadar spesies megafauna, hiu paus memiliki peran ekologis dan ekonomi yang besar. Ia berperan menjaga rantai makanan dan keanekaragaman hayati laut, sekaligus menjadi daya tarik utama bagi pariwisata bahari berkelanjutan. Dengan demikian, buku ini tidak hanya menyajikan data ilmiah, tetapi juga menegaskan pentingnya pelestarian hiu paus sebagai bagian integral dari ekosistem laut Indonesia dan warisan alam dunia.

